Silahkan baca
BAB 3
"Hermione. Kau tak mendengarku," gerutu Ron ketika makan siang.
Hermione memutar bola matanya. "Tak ada yang perlu kudengar, redballs. Aku tahu apa yang akan kau katakan. Jadi, jangan buang napasmu sia-sia." Dia menyeruput jus labu dari pialanya.
"Ya ya ya," Ron mencibir. Dia mengambil paha ayam yang besar dan menggigitnya penuh emosi. "Au takprelu mbuang napasu utukMafoy siaanitu."
"Telan dulu, bodoh. Jangan buka mulutmu jika sedang mengunyah. Menjijikan!"
"Kacrewet kali hriini."
"Ron!" Hermione melempar sebutir anggur padanya lalu mengerutkan kening. "Dan aku juga membuang napasku sia-sia untuk menutup mulutmu jika saja kau terus menggerutu," kata Hermione jengkel.
Ron minum dari pialanya. "Itu salahnya karena lahir di dunia ini," balas Ron sambil menghentakkan kepalanya ke arah Malfoy di meja Slytherin. Hermione tak mau mengikuti arahnya.
Malfoy sedang menjadi pusat perhatian teman-temannya. Bukan sedang. Tapi selalu. Bukan hanya oleh teman-temannya, tetapi juga setiap dia melewati segerombolan anak perempuan di koridor atau bahkan di Aula Besar. Kelihatannya dia tampak benar-benar menikmati perhatian itu. Entah apa yang dia katakan sehingga membuat teman-temannya terbahak-bahak.
Ron mendengus. "Dasar banyak tingkah—"
"Hei," Hermione menegurnya.
"—si brengsek itu—"
"Diamlah."
"Dia selalu—"
"RON!"
Ron melempar pandangan ada-apa-denganmu padanya.
"Well, adakah satu hari saja tak ada orang yang menyebut namanya?" tanya Hermione. Ia berganti menatap Harry. "Harry, lakukan sesuatu terhadap teman bodohmu ini. Dia membuatku gila dengan ocehannya itu."
Harry mengangkat bahu seraya nyengir lebar. "Bagaimanapun juga dia benar, Hermione. Kau tahu sendiri, kan?" gumamnya datar. Kemudian dia menatap Ron. "Apabila kau berencana menguliti Malfoy hidup-hidup, membuat konspirasi memenggal kepala besarnya—"
"Mencincang tubuhnya," Ron menimpali sambil terkekeh.
"—atau apapun segala bentuk tindakan hari-pembebasan-dari-segala-kejahatan-yang-merajalela, aku mendukungmu, teman," kata Harry, mengangguk seakan dia serius dengan segala perkataannya. "Kau tahu dimana kau dapat menghubungiku jika suatu saat memerlukan bantuan."
Ron nyengir lebar pada sahabatnya itu. Mereka melakukan high-five. "Paling tidak harus ada seseorang yang harus membebaskan dunia ini dari segala bentuk kejahatan, Mione." Senyuman lebar muncul di wajahnya.
Hermione memutar bola matanya. "Oh, tutup mulut kalian berdua." Hermione menyeruput minuman dari pialanya. "Kasihan sekali para manusia di bumi ini. Menggantungkan hidupnya pada dua idiot bodoh ini."
"Semua yang terjadi selalu dengan jalan yang tak terduga," sahut Harry singkat sambil tersenyum lebar.
"Berkatilah kami," tambah Ron.
"Amin," sahut Harry, mengepalkan kedua tangannya di dada seakan berdoa.
Hermione menyerah dengan kedua sahabatnya itu. Dia menghela napas panjang putus asa. "Mungkin memang lebih baik jika Malfoy berhasil memantraimu juga, Harry, sehingga aku bisa mengerjakan PR ini dengan tenang," gumamnya.
Gadis itu mengambil pena bulunya dan meneruskan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh Profesor Flitwick setelah beberapa minggu mereka mulai sekolah di tahun ke tujuh: Jelaskan penyebab mengenai Pemberontakan Penyihir Persia sepanjang tiga perkamen. Dia sudah menyelesaikan empat perkamen. Tiga saja tidak cukup, tentu saja. Pemberontakan penyihir Persia tidak terjadi hanya dalam waktu semalam, bukan?
"Malfoy brengsek." Suara Ron.
Gawat. Dia mulai lagi. "Yeah, aku tahu itu."
"Dia merubahku!" kata Ron nyaris berseru.
Di kelas transfigurasi tadi, Profesor Macgonagal seperti biasa menyuruh mereka mentransfigurasi suatu bentuk ke bentuk lain. Kali itu, mereka ditugaskan menyihir meja menjadi keledai dan merubahnya lagi menjadi meja. Masalahnya, mereka harus sekelas dengan para Slytherin. Kalau itu terjadi, maka tak ada yang bisa berjalan normal. Tak terkecuali yang terjadi di kelas transfigurasi sebelum makan siang itu.
"Ya, sayang sekali mantra itu tak menyebabkan kerusakan pada setiap sel otakmu," gerutu Hermione. "Jadi, kau hanya mendapatkan ekor itu, benar?"
"Dan badan berwarna abu-abu." Harry menambahkan. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kukira kau di pihakku, Harry."
"Aku selalu di pihakmu, kawan. Hanya saja, ide Malfoy tadi cukup menarik," canda Harry.
Ron mengacuhkan Harry. Dia melanjutkan omelannya, "Katanya 'Maaf, Weasley. Kukira kau keledai itu.'"
Harry pura-pura berpikir dengan mengusap dagu, "Kalau diperhatikan, memang sulit membedakanmu dengan keledai."
Ron menimpuknya dengan apel. Namun, Harry seorang Seeker handal dan kapten tim Quiditch, semua tahu. Dengan insting seeker yang dimilikinya, dia menangkap apel itu dengan mudah.
"Tidakkah kau menyadari kalau kau lebih tampan? Kau cocok dengan abu-abu dan ekor, kau tahu?" tanya Harry, nekat memanas-manasi.
"Ha-ha. Lucu sekali," Ron mencibir. Lalu dia mengangkat alis matanya. "Jenggot Merlin, Malfoy berusaha membunuhku!"
"Ron," kata Hermione, mengalihkan perhatian sejemak dari perkamennya. "Dia hanya merubahmu menjadi kedelai." Intonasi datar. Sederhana. Seakan hal itu sama biasanya dengan matahari terbit dari timur.
"Kau bicara seakan kau juga menginginkan aku berubah menjadi keledai."
"Ya, jika kau tak segera menutup mulutmu itu!"
Ron menghela napas kesal. "Kau," sahutnya. Ron menunjuk Hermione dengan paha ayam ke lima yang sudah setengah dia makan. Ron adalah bukti nyata bahwa kekesalan dapat meningkatkan nafsu makan.
"Apa?"
"Kau jangan pernah bicara padanya. Dengan Malfoy," geram Ron.
"Maaf?"
"Jangan pernah bicara dengannya."
Hermione memutar bola matanya. "Kau mengatakannya seakan aku sering menghampirinya mengajak dia keluar."
"Aku tahu kau tahu maksudku," Ron menggeram ("Aku ambil sosis ayam ini. Kau tak mau, kan?"kata Harry. Dia langsung mengambil sosis itu dari atas piring Ron tanpa menunggu jawabannya). "Si wajah banci itu—Si cowok cantik itu sering mempermainkan cewek-cewek. Dan reputasinya itu—"
"Aku tak bodoh," sahut Hermione, merasa tersinggung.
"Oh, jelas."
"Jadi hentikan perkataanmu yang membuatku seakan-akan orang yang bodoh."
Ron memandang Hermione seraya mengerutkan kening. "Tidak. Aku tidak membuatmu—"
"Ya, Ron. Nada suaramu mengatakan hal itu."
"Tidak."
"Ya."
"Tidak."
"Ya—Arg, hentikan dengan ya-tidak yang bodoh ini," geram Hermione. Dia terdiam sesaat untuk menarik napas seakan pembicaraan ini memakan banyak energi. "Lagipula mana sudi aku berbicara padanya. Dan tentu saja dia takkan berminat bicara padaku."
"Jika kau bukan berkelahiran muggle, mungkin dia akan mengejarmu."
"Untungnya bukan," gumam Hermione. Lalu dia menghela napas dengan keras, menatap Ron dengan malas. "Dan sekarang benar-benar kau membuang-buang napasku sekarang."
"Kalian sudah selesai bertengkarnya?"
Hermione dan Ron memandang Harry dengan kesal.
"Kuanggap itu sebagai ya."
Hermione kembali menekuni tugasnya. Dalam hati, dia juga ingin sekali menonjok Draco Malfoy. Ron juga ingin pastinya. Harry juga. Mungkin banyak juga yang lain. Padahal seharusnya ada seseorang di antara mereka yang bertindak waras. Jika ada, orang itu adalah Hermione. Dan ia bangga karena dia bisa menjadi penjaga-perdamaian di antara mereka berdua.
"Well, daripada membicarakan dia," Harry menghentakkan dagunya ke arah Draco Malfoy di sisi lain. "Lebih baik membicarakan bagaimana kabar dunia saat ini."
Hermione senang topik kini berganti sehingga dia tak akan mendengar lagi umpatan-umpatan Ron. Bicara tentang Malfoy membuat udara seakan menyusut begitu saja. Tapi sayangnya topiknya tidak bertambah cerah. Mungkin hanya sedikit sepanjang tak ada nama Malfoy di sana.
Ron menghela nafas berat. Wajahnya menjadi suram. "Penyerangan skala kecil terjadi di beberapa tempat," Ron memulai. "Pelahap maut mulai bergerak terang-terangan."
"Kudengar dua anak di Ravenclaw mengundurkan diri dari tahun ajaran ini," kata Harry.
Ron mengangguk-angguk. "Yeah, kau tahulah, orang tuanya kuatir."
"Bagaimana mungkin? Kalau begitu mereka bodoh sekali bukan? Di sini ada Dumbledore. Penyihir terhebat saat ini. Hogwartslah tempat yang paling aman," kata Hermione.
Ron menatapnya. "Apa yang membuatmu benar-benar yakin di sini tempat teraman lagi, Hermione? Penyerangan-penyerangan awal terjadi di sini, kau ingat? Kau lupa tentang Quirell di tahun pertama? Ular keparat itu di tahun ke dua? Sirius yang mereka kira jahat di tahun setelahnya? Lalu kematian Cedric dan lain-lain?" Wajahnya kian suram.
Hermione menyadari Ron benar. Semuanya terjadi di Hogwart. Dia beruntung orang tuanya tak begitu mengenal dunia sihir sehingga mereka tak sekuatir orang tua yang lain. Contohnya orang tua Patil bersaudara. Mereka mengirimkan alat-alat aneh tiap minggu pada kedua anaknya yang dikatakannya sebagai perlindungan. Bukannya menenangkan, alat-alat itu malah menjengkelkan Hermione. Tengah malam kadang dia harus bangun karena Alarm Pencegah Bencana milik Parvati meraung keras hanya karena burung hantu milik mereka mengetuk2 jendela untuk masuk. Hermione mengancam melaporkannya ke Profesor Macgonagall jika Parvati tak melepaskan Alarm itu. Dan baru kemarin dia berhasil tidur dengan tenang.
"Kira-kira di mana dia sekarang?" tanya Harry.
"Siapa?" sahut Ron.
"Kau yakin aku harus menyebut namanya?"
"Oh, maksudmu dia?" Ron segera mengerti maksudnya. "Tak ada yang tahu. Tetap misterius sepekat kabut di malam hari. Rumor mengatakan dia di Rumania. Rumania? Yang benar saja. Kurasa hanya gosip, mengingat semua koran tak memiliki berita baru lagi untuk ditulis. Dan sejauh ini yang melakukan penyerangan-penyerangan hanyalah para kaki-tangannya ataupun Pelahap maut."
Gambaran langit sihir di langit-langit Aula Besar sedikit berawan. Namun tetap saja matahari belum muncul. Tapi paling tidak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya yang diselimuti awan mendung berwarna kelabu. Para murid berangsur-angsur meninggalkan bangku mereka setelah menyelesaikan makan siangnya. Sekelompok anak perempuan segera bergegas keluar menuju lapangan Quidditch sambil mengerling singkat ke arah meja Gryffindor.
"Sudah waktunya, Harry. Sebaiknya kau buru-buru ke lapangan," gumam Hermione. Ia merogoh ke dalam tasnya mengambil perkamen kosong untuk melanjutkan PRnya ke halaman lima.
"Apa?"
"Sekarang waktumu latihan, kan?" tanya Hermione. "Penggemarmu menunggumu beraksi." Dia menghentakkan dagunya ke arah sekelompok anak perempuan tahun ke empat yang baru saja hilang dari pandangan di pintu Aula Besar.
"Astaga. Bisakah aku latihan dengan nyaman?" tanyanya pada diri sendiri hampir frustasi. Dia kembali memandang kedua sahabatnya. "Kalau begitu sampai di sini saja, teman-teman." katanya. Dia berdiri dari bangku, meminum habis jus di pialanya. Dia mengambil sebuah apel dari keranjang buah lalu menggigitnya. "Sampai jumpa pada makan malam." Dia melambai singkat, lalu berbalik ke arah pintu keluar. Tak lama kemudian, Harry menghilang dari pandangan mereka.
"Sayang sekali kau gagal masuk tim, Ron," kata Hermione.
"Yeah, aku tak menyangka aku kalah seleksi Kepeer dengan anak kelas dua itu," kata Ron. "Kau tidak berusaha menghiburku, Hermione?"
"Sudah. Aku tadi bilang 'Sayang sekali kau gagal masuk tim'."
Ron menatap Hermione malas. "Penghiburan yang hebat," ejeknya. "Carilah sesuatu yang lebih ehm—bersahabat."
"Dan apakah ide brilianmu itu, Weasley?"
"Well, Hermione," Ron berdeham seakan-akan ada tulang ayam tersangkut di tenggorokannya—mendadak salah tingkah. "Well—" Ron mengalihkan pandangannya dari Hermione. "Kamu bisa…mengajakku ke Hogsmaede."
"Apa?"
"."
Kata-kata—kalimat itu mengalir sangat cepat. Hermione berkedip satu kali, berusaha mencernanya. Dia berkedip kedua kali, berharap menangkap inti sari kalimatnya. Tapi kemudian dia bisa menangkapnya.
Tidak. Ini tidak boleh, pikir Hermione.
Sejak mereka berada di tingkat empat, Hermione mulai berpikir mungkin ada sesuatu di antara mereka. Mungkin ada. Dulu memang pernah ada. Tapi Hermione sudah menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh. Namun sejak akhir tahun kelima, Ron mulai mengajaknya pergi keluar. Well, bukannya dia tak pernah mengajak Hermione keluar sebelumnya. Hanya saja, ajakannya menjadi agak berbeda. Dia mencari-cari alasan untuk mengajaknya keluar. Dan Hermione tidak bodoh untuk tidak menyadari hal-hal seperti itu. Harry kadang juga menyadarinya. Dan Hermione juga merasa tak nyaman. Maksudnya, bukankah mereka teman baik? Hermione takut segalanya akan berubah jika dia membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya terjadi.
Hermione kadang membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya itu terjadi. Mereka kadang sering pergi minum ke Hogsmade jika Harry sedang sibuk dengan latihan Quidditchnya. Tapi, dia tak melihat adanya keharusan atau kecenderungan hubungan itu harus lebih dari seharusnya. Mungkin memang tidak seharusnya?
Ron lebih sering bersamanya sekarang ini. Tapi hingga saat ini Hermione tak melihat adanya hubungan yang mungkin akan terjadi dengan Ron. Maupun Harry. Maksudnya, Ron adalah sahabatnya, begitu juga Harry. Apalagi karena Harry memang milik setiap orang. Dia merupakan pahlawan-penyelamat-bokong-setiap-orang.
"Hermione?"
"Ya," Hermione berdeham. "Er—maksudku tidak." Hermione menggelengkan kepalanya. Dia memutar otak. "Aku tidak bisa membiarkan para tukang gosip ngomong yang tidak-tidak. Terakhir kita pergi, mereka bilang kita terlihat berciuman di Three broomstick. Dasar orang kurang kerjaan."
"Mengapa harus peduli—"
"Aku Ketua Murid, Ron. Harus jaga wibawa."
Ron terdiam sejenak. "Kau mencari-cari alasan ya?"
Hermione pura-pura terlalu berkonsentrasi pada perkamennya. "Apa—Ron?" tanyanya seolah baru sadar bahwa Ron bicara padanya.
"Ehm—tidak. Tidak ada apa-apa."
Lima puluh dua. Lima puluh tiga. Lima puluh empat…
Sebutir keringat mulai menetes dari dagunya pada hitungan push-upnya kelima puluh lima di dalam salah satu ruang berdebu di Shrieking Shack. Dia menghiraukan keluhan otot tangannya yang meminta belas kasihan untuk beristirahat. Dia tak ingin berhenti walaupun seluruh tubuhnya sudah tegang dan memprotes.
Berbagai ingatan merasuki benaknya. Perlahan-lahan melayang lagi dan terhembus ke dalam memori. Ingatan yang terhembus seperti angin yang menyelinap memasuki Shrieking Shack pada siang hari itu. Dingin. Memilukan.
Draco tahu, dia marah. Dan dia kesal karena rasa marah itu. Karena dia berada di pihak yang tepat—mengapa dia harus marah. Tak lama jika waktunya tiba, Dia-yang-namanya-terlalu-agung-untuk-disebut akan memulainya. Mengambil apa yang menjadi seharusnya. Mendirikan apa yang menjadi sepatutnya. Bagi para penyihir yang sebenarnya. Dengan kemurnian darah yang mengalir ke seluruh tubuh mereka. Mengklaim hak dasar mereka di dunia sihir.
Darah Murni.
Keluarga bangsawan kuno Malfoy yang termasyur bagian dari itu. Betapa dia bangga menjadi salah satunya. Satu-satunya pewaris. Malfoy bukan hanya sekadar nama. Keluarga Malfoy adalah kebesaran, salah satu klan tinggi dari pengikut Voldemort yang agung.
Ketika ulang tahunnya yang ketiga belas datang, semua perencanaan itu mulai dilakukan. Dia salah satu dari mereka yang dilatih. Prajurit. Berbekal pelajaran Kutukan Tak Termaafkan yang dilatih oleh Lucius Malfoy dan teman-teman ayahnya, segalanya berjalan seperti apa yang diharapkan. Maka Draco terus berlatih. Memar-luka menjadi santapannya. Dia tidak dapat melawan dan melukai karena lawan latihnya sendiri jauh lebih kuat dari dirinya. Maka dari itu Draco benci. Dia benci dilukai tanpa bisa melawan.
Marah. Mungkin itu kata yang tepat.
Biasanya Draco kembali ke kastil setelah latihan di kediaman Malfoy. Kemudian dia akan mencari seorang anak, mencari-cari kesalahan, lalu memberi bogem mentah kepadanya. Amarah tersalurkan. Namun jika ke kastil tampak begitu membosankan—kadang malah membawa amarah baru, hutan inilah yang menenangkannya. Selalu. Ketenangannya. Kenyamanannya. Hutannya. Dunianya yang sunyi.
Dunia nyata Draco tetaplah keluarganya dan perjuangannya bersama Lord Voldemort. Walaupun kegundahan dan amarah selalu menyertainya tiap dia selesai berlatih, dia tahu dia tidak memiliki pilihan lain. Karena dia tahu apa yang dilakukan ayahnya dan rekan-rekannya adalah benar. Semua itu demi masa depan para penyihir seperti mereka. Penyihir yang berdarah murni. Jadi—
Lakukan. Hancurkan. Menang.
Ayahnya benar. Lakukan. Hancurkan. Menang. Ya, ayah. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukanhancurkanmenang. Lakukanhancurkanmenang―
Bagai doa.
Tujuh puluh enam. Tujuh puluh tujuh…
Jangan ragukan, acuhkan moral, pikirkan tentang Dia. Layani Dia. Lord Voldemort yang akan membawa menuju kejayaan. Keagungan para darah murni.Jangan ragukan, acuhkan moral, pikirkan tentang Dia. Layani Dia. Terus bergema. Berulang-ulang. Tak ada cinta. Jangan rasakan cinta.
Cinta?
Draco tak pernah memikirkan keberadaan perasaan itu. Keberadaan sesuatu yang abstrak dan tak pernah jelas. Tak ada yang perlu dipercayai darinya. Dia bahkan meragukan perasaan itu memang ada. Tidak eksis. Sama seperti meragukan cinta di antara kedua orang tuanya.
Suatu kali, suatu malam pada malam musim panas bertahun-tahun yang lalu—ketika dia pernah berpikir akan cinta di antara ayah-ibunya, dia mulai sadar akan kenyataan bahwa cinta memang absurd. Kadang Draco bahkan meragukan dia mendengarnya—suara ayahnya di balik kamar tidurnya dengan penyihir lain. Wanita lain. Bukan ibunya—istri ayahnya. Kini dia tahu, tak ada perasaan yang harus dipikirkannya. Apalagi perasaan bodoh yang tidak nyata itu. Cinta? Persetan. Layani Dia, cintai Dia.
Ya, ayah. Ya.
Delapan puluh dua. Delapan puluh tiga. Delapan puluh empat…
Ruangan itu tidak terlalu terang. Sumber cahaya berasal dari jendela yang sudah pecah. Kaca itu sudah entah dimana sehingga hawa dingin memasuki ruangan yang cukup besar untuk sebuah ruang tengah.
Hari ini tak ada latihan Quidditch untuk menyibukkan dan mengalihkan amarahnya. Jadi, dia memutuskan untuk melakukan latihannya sendiri. Tetapi alasan utamanya adalah dia ingin mengosongkan pikiran. Dia berharap otaknya akan dipenuhi rasa lelah sehingga dapat melupakan semua yang berkecamuk di benaknya saat ini. Mungkin sedikit dosis rasa sakit di ototnya yang lelah akan efektif. Dan di sinilah dia di atas lantai berdebu dalam Shrieking Shack.
Segalanya berjalan lancar sampai dia mendengar sebuah suara samar dari luar jendela. Draco menajamkan indra pendengaran. Terdengar suara gonggongan anjingnya lagi di kejauhan. Awalnya dia ingin menghiraukan dan melanjutkan push-upnya. Tapi ruangan itu sangat sunyi sehingga membuat gonggongan Kofu seakan semakin membesar. Hitungannya menjadi kacau.
Draco frustasi. "Brengseeek," dia mengumpat pelan.
Dengan kesal karena latihannya terganggu, dia bangkit dari lantai. Debunya berterbangan ketika dia membuat gerakan tiba-tiba. Draco bersin sekali. "Fuck," sahutnya. Dia merenggangkan tubuhnya sejenak untuk merelakskan otot, lalu mengelap keringat dengan kemejanya sekadarnya.
Suara Kofu terdengar lagi. Dia melihat ke arah luar jendela. Masih terang. Pepohonan masih terselimuti oleh cahaya kekuningan. Berarti dia latihan belum cukup lama.
Draco berjalan menyusur koridor rumah itu. Lantai kayunya berderit ketika dia menapak di atasnya. Dia membuka pintu depan bobrok yang hampir lepas dari engselnya. Dan mengutuk pelan ketika pintu terjatuh beberapa langkah setelah dia melewatinya. Udara di luar tidak lebih dingin daripada di dalam, hanya saja udara musim gugurnya menjadi lebih terasa.
Draco memasuki hutan dan melewati pepohonan yang dedaunannya mulai menguning. Semakin dia berjalan memasukinya, semakin terdengar sumber suara itu. Kemudian, Draco melihatnya. Dia menyumpah-nyumpah karena hal itu.
Lagi.
"Kau? Lagi?" kata Draco jengkel. Kofu langsung terdiam mendengar suara tuannya.
Wajah Granger tampak mengeras, melihat Draco. Tak ada rasa senang dalam pertemuan tak terduga mereka untuk yang kedua kalinya. "Diamlah," sahut Granger, merah padam.
Hermione Granger tersentak saat melihatnya lagi. Sama seperti sebelumnya, ia ketakutan oleh Kofu. Di pohon yang sama. Dengan posisi yang sama. Dan Draco dapat melihat tongkat sihir jatuh di tempat yang sama.
Astaga, bagaimana—bagaimana bisa—Granger bisa sebodoh itu.
Kemudian Draco tak dapat menahan diri untuk tertawa. Bukan karena situasinya, tapi karena dia ingat bahwa ini adalah kedua kalinya Granger melakukan kecerobohan bodoh dan memalukan. Bagaimana bisa Granger membiarkan dirinya terlihat begitu bodoh?
Draco tertawa semakin keras. Dia menghampiri pohon itu dan menatapnya dari bawah. "Kau tak bisa tinggal bilang 'diamlah' begitu saja, Granger, karena kau tidak melihat dari perspektifku. Dan aku menganggap situasi ini benar-benar lucu."
Sepertinya Granger tidak dapat memikirkan cemoohan balasan yang tepat untuk Draco, dia hanya diam saja. Pipinya lebih merah padam lagi.
"Malfoy, enyahlah saja, oke?" kata Hermione frustasi.
"Kau tak punya hak mengatur apa yang kulakukan."
"Terserahlah apapun yang kau katakan. Just—pergilah dari sini! Ya ampun, kenapa sih kau sebegitu menyebalkan?"
"Kau pikir dirimu tidak menyebalkan, otak udang?"
"TIDAK SEBESAR KKAAAAUUUU, KECOAK BUSUUUKKK!" seru Ketua Murid itu putus asa.
Draco tersenyum sinis, memutar bola matanya. Saling mencemooh. Mereka tampak seperti orang bodoh sekarang. Murid tahun terakhir sekolah sihir Hogwarts yang tersohor mahir dalam ejekan dan cemoohan? Para pengajar harus menyadari melihat bakat ini. Dengan begitu duel sihir bisa ditiadakan sehingga sangat bermanfaat untuk menghindari jatuhnya korban. Bagus. Masukkan pelajaran ini dalam kurikulum sistem pengajaran tahun depan.
Ya ampun. Tidakkah ada yang bertindak dewasa di sini?
"Darah lumpur," balas Draco, mengeluarkan pamungkasnya. Dia telah melontarkan kata kuncinya. Darah lumpur. Oke, dia memang tak bertindak dewasa saat ini. Tapi Draco Malfoy tak boleh kalah.
Hermione terdiam sejenak. "Kau tahu aku tak suka menyebutku itu."
"Aku tahu," sahut Draco singkat. "Biasakanlah. Kau tahu kan, aku termasuk orang sering menyebutkannya. Dan aku akan mengatakannya lebih sering lagi."
Granger menyipitkan matanya sambil mendengus. "Sulitkah agar tidak meggunakan kata-kata biadab itu? "
"Ooooohhh, lebih sulit dari yang bisa kau bayangkan, Granger."
Hermione menggeram habis kesabaran. "Malfoy, PLEASE, pergi dari sini?"
Draco mengangkat alis. "Aku yang seharusnya mengatakannya." Kofu menghampiri Draco dengan mengibas-ibaskan ekornya. Draco membungkuk untuk menggaruk belakang kuping anjing itu. "Jadi, Granger—" dia terhenti sejenak untuk tersenyum mengejek. "Tak bisa turun lagi, bukan begitu?"
"Setelah kau dan anjing bodohmu pergi."
"Well, dia jauh lebih cerdas dari kepala besarmu, Granger," ujar Draco.
Hermione mencemooh, "Dia cukup bodoh untuk memilihmu sebagai tuannya."
"Dia cukup pintar untuk menerkam mulut besarmu jika kau turun nanti," tukasnya. Draco tersinggung dan sedikit terprovokasi. Tapi kemudian dia berusaha untuk tenang dan sedikit menyebalkan—untuk membuatnya kesal.
Granger terdiam. Paling tidak untuk beberapa saat. Draco tahu seperti apa dia. Enam tahun satu sekolah dengannya. Cukup untuk mengetahui seberapa cerewetnya Hermione Granger.
Gadis itu masih berjongkok, berusaha menyeimbangkan diri. Tangannya berusaha merapikan roknya menjaga agar tidak tersingkap.
Oh, Merlin. Bagaimana Kutu buku Granger bisa memakai rok pendek seperti itu. Mungkin dialah yang sengaja ingin digoda oleh para lelaki di Hogwart. Mungkin dia juga seorang jalang. Dan Malfoy adalah satu-satunya laki-laki yang bisa berpikir logis. Hermione Granger adalah darah lumpur, demi Merlin!
"Jadi—" Draco menghela napas. "Kau berniat bertengger di sana sepanjang waktu? Sayang tak ada sang pahlawan, Granger? Potter si penyelamat dunia. Well, aku tahu dia sedang sibuk, akhir-akhir ini. Tapi bukankah ada si Weasley Raja Kami? Weaselman yang tersohor."
Hermione menggigit bibirnya.
Draco menelan ludah.
"Bilang saja kau iri betapa mereka dicintai semua orang," Hermione berkata dengan tenang. "Yang kau lakukan hanya mencari gadis yang bisa menemanimu di ranjang."
"Yeah, yang benar saja," Draco memutar bola matanya. "Apa kau tak pernah dengar gadis-gadis itu, bagaimana mereka memuja―well, apa aku bisa menyebutnya bakatku?"
Kurasa itu akan membuat Granger jalang itu muntah. Draco bisa melihat rasa jijik terpancar dari wajahnya bagai buku yang terbuka. Granger terlalu mudah dimanipulasi. Dia terlalu polos.
"Oh, ya ampun. Kau menjijikan," geramnya. Kemudian dia terlihat berpikir-pikir sejenak. "Well, aku akan turun, Malfoy. Tapi jaga anjingmu." katanya tegas. "Dan aku ingin kau berbalik."
Draco mengerutkan keningnya, "Maaf?"
"Aku memakai rok, idiot! Kau harus berbalik dulu."
Aku tahu itu, bodoh. Maksudku, apa bedanya? Atau apa gunanya? "Kau menuduhku mengintipmu?"
Hermione menatapnya tak sabar, "Berbalik saja, oke?"
Draco tersenyum mengejek. Tapi perlahan dia berbalik sambil mengumpat dalam hati. Dia membuat spekulasi dalam benaknya untuk Granger ke tempat ini. Ini adalah Hutan Terlarang. Umumnya orang takut masuk ke dalam sini. Apa dia mencari tempat sembunyi untuk saat-saat intim dengan cowok-cowok Hogwart? (Granger? Yang benar saja). Atau mencari tempat untuk belajar? Pikiran yang terakhir dia buang karena Granger takkan mungkin datang lagi ke sini hanya untuk belajar. Belajar apa? Belajar bahwa ada binatang liar yang siap mengoyak isi perutnya setiap saat? Well, Draco tahu Granger itu cukup bodoh, tapi tak sebodoh itu untuk tak menyadari hal itu. Pastinya motivasinya lebih dari itu. Pastinya. Maka dari itu, dia kembali lagi ke sini, menyuruh Draco untuk pergi, dan menyuruh Draco berbalik memunggungi—
Tunggu.
Kenapa aku harus berbalik? Aku ingin kau berbalik, katanya. Sejak kapan seorang Malfoy diperintah seorang darah lumpur? Maksudku, kenapa aku harus mengikuti perintahnya? Apa haknya memerintahku? Hoooo, dia kira aku siapa? Dia kira dia siapa?
Draco berbalik lagi untuk menghadapi si gumpalan-rambut-coklat itu. Namun, Granger tidak sedang menatapnya. Jelas dia kesulitan untuk turun dari pohon itu. Terlebih dia bukan pemanjat yang handal. Jika Draco melihatnya dalam situasi lain, mungkin dia akan tertawa mencemoohnya.
Namun, dia terpaku.
Kini Draco mengerti kenapa Hermione memintanya berbalik memunggunginya. Tapi Draco tak sudi—dan tak ingin—melakukannya sekarang. Karena sedang dia menatapnya.
Granger mencoba turun dengan kaki lebih dulu. Tangannya meraba-raba batang pohon. Kakinya mencoba mencari pijakan. Tapi tak dia menemukan apapun selain kulit kayu yang kasar. Roknya yang pendek menggesek batang pohon yang besar sehingga kain itu tertahan—yang benar saja—di sekitar panggulnya, memperlihatkan—mengekspos kakinya secara keseluruhan. Kaki itu. Kaki Granger—
Draco membasahi bibirnya.
Jadi itulah yang dimaksudkan Blaise dan penghuni laki-laki Howarts lainnya.
Kofu menggonggong singkat. Suara itu membuat Granger tersentak kaget. Juga membuat Draco tersadar. Konsentrasinya buyar dalam sekejap. Karena kehilangan konsentrasinya, Granger kehilangan pegangan dan serta merta dia terjatuh ke atas rerumputan dengan cukup keras. Dia mengaduh pelan, mengelus pinggangnya.
Draco menenangkan Kofu. Anjing itu menurut sambil mengibaskan ekornya.
Granger langsung berdiri lagi. Sejumput rambut ikal menutupi wajahnya. Dia menyingkirkan rambutnya dari wajah lalu mengibaskan rerumputan yang menempel pada baju dan roknya. Wajahnya bersemu merah.
Draco tersenyum senang. Granger jelas merasa tak nyaman. Gadis itu merapikan bajunya dengan canggung kemudian memasang tampang marah di wajahnya.
"Pendaratan hebat. Sama seperti yang lalu," gumam Draco. Dia menyilangkan kedua tangannya. "Bravo. Bravo, Granger."
Granger berdeham gugup. "Kau tak boleh menginjakkan kaki di sekitar sini lagi."
Draco mengangkat alis. "Apa?" tanyanya—mengira dirinya salah mendengar.
"Kau tak boleh minginjakkan ka—"
"Diam. Aku sudah dengar bagian itu," sahut Draco tak sabar. "Apa yang membuat otak udangmu berpikir aku yang harus pergi dari sini?"
"Aku sudah bolak-balik ke sini sejak seminggu yang lalu. Aku yang lebih berhak ke tempat ini karena datang lebih dulu."
"Oh," respon Draco datar. "Benar begitu?" Kemudian dia sedikit berlagak menimbang-nimbang. "Well…gigit dia, Kofu."
Anjing itu menggonggong nyaring. Namun dia tidak bergerak dari tempatnya. Kofu tahu tuannya hanya mengancam.
Tapi gonggongan itu sanggup membuat Granger ngeri. Dia tersentak kaget. "Astaga!", serunya. Secara instingsif, dia berlindung di belakang Draco, mencengkram lengan kemejanya.
"Jangan sentuh aku, darah lumpur," kata Draco kasar, menghentakkan tangannya agar cengkraman tangan Hermione lepas.
Perlindungannya hilang. Serta merta Hermione meraih tongkat sihirnya yang terjatuh tak jauh dari dirinya. Dia berdiri tegap dengan tangan terjulur dengan tongkat sihir teracung ke arah Kofu-Draco secara bergantian. "Kau tahu aku tak sudi menyentuhmu, Malfoy. Tidak untuk satu helai rambut pun."
Kemudian sifat Kofu menjadi berubah melihat Granger mengacungkan tongkat padanya. Dia menggeram mengancam ke arahnya. Waspada. Namun dia cukup cerdas untuk tidak langsung menyerang dan menjadikannya bulan-bulanan sihir Granger. Diam. Memikirkan kapan untuk bergerak.
"Singkirkan hewan sialan itu dan pergi dari sini!" kata Hermione nyaris berseru.
"Pergi dari sini, Granger?" tanya Draco, kini mulai marah. "Katakan padaanjingku bahwa kau lebih dulu menemukan tempat ini" Draco menghentakkan dagunya ke arah Kofu. "Dan aku bersumpah aku akan membuat dirimu tidak akan nyaman seumur hidup. Akan kupastikan Kofu mengurusmu dengan baik. Dia tuan rumahnya, Granger. Dan kau harus tahu, dia sudah ada di sini bahkan sebelum kita diperbolehkan keluar kastil untuk mengunjungi Hogmaede."
"Aku tak melihatmu beberapa terakhir ini, jika ini memang kau duluan yang menempati."
Oh,itu. Pastikan Granger mendengarnya dengan jelas. "Aku juga mempunyai kesibukan, Granger. Quiditch, gadis-gadis, dan semua yang sulit kau bayangkan," jawab Draco datar. "Right, boy?"
Anjing itu menyalak keras.
Hermione tersentak lagi. Draco terkekeh. Kofu berhenti menyalak ketika tuannya itu mengangkat salah satu tangan untuk menyuruhnya diam.
Granger mundur selangkah. "Jangan-lakukan-itu-lagi," ia menggeram.
"Hadapilah. Kau yang menyebabkannya."
Granger memejamkan matanya sejenak untuk menarik napas. "Jangan suruh anjingmu melakukan hal bodoh itu lagi."
"Bukan aku yang menyebabkannya. Dan sudah kukatakan bahwa dia tidak bodoh. Dia cerdas dari yang kau bayangkan," kata Draco. "Dan kini kau harus pergi, Granger. Aku muak melihatmu." Dia mulai merasa tak sabar. "Kaulah yang menyusup ke tempatku. Dan aku sangat tidak menyukainya."
Granger mundur perlahan-lahan. "Biasakanlah. Karena kau akan melihatku lebih sering lagi," Granger mendesis. Dia berbalik, meninggalkan tempat itu.
Sebelum Draco membalas Granger sudah lari memasuki semak-semak. Sosoknya hilang di balik pepohonan. Draco teriak dengan sekuat tenaga, berharap darah lumpur itu mendengarnya. Dia pasti masih bisa mendengarnya.
"Dan biasakanlah. Karena kau akan merasa hidup di neraka lebih lama lagi!"






0 komentar:
Posting Komentar